Sabtu, 22 April 2017

The Hyang Plateau, Mt Argopuro before Me

Mt. Argopuro, Desember 2016

"Ky, lo serius mau nanjak berdua doang ke Argopuro? Lo gilak ya," tanya temen gue serius sambil ngunyahin pecel ayam pada malam itu.

"I dunno I just wanna do it. Walopun gue sebenernya nggak yakin sih. But ya.... I just wanna do it once in my life"

Once.. in my life...
Once..
walking 60 km with only a friend.
What a stupid idea?

And I arrived at Ps Senen Station an hour before my train departed. Dapat kabar kalo temen gue ini si Mas Yedi masih nyangkut di dalam Commuter Line menuju St. Jatinegara.

Lima belas menit nunggu. I just take a fine selfie.

Tiga puluh menit nunggu. Oh my God, I did not feel fine anymore.

Empat puluh menit nunggu. OH WHERE THE HELL ARE YOU??

I called my friend like crazy. Dan nggak diangkat -__- terus gue menggila sendiri.

"Pak, pak, kereta berangkat jam berapa?", colekkin Pak Satpam.

"Kereta 5 menit lagi mau jalan, kamu kok masih disini?"

"Temen saya masih otw, Pak. Keretanya pake on time banget ya?"

"Udah cepet masuk, kereta nya udah mau jalan. BLA BLA BLA BLA"
--------------------------------------gue dimarahin---------------------------------

Tapi Pak.... PAAAAKKK....... Gue lari terbirit-birit sambil bawa tentengan seabrek.

Perfect... Now I'm all alone, sitting in the side of the window and the train moves..

"HUAAAH KERETANYA JALAAAAN..." Gue uring-uringan sambil mukul-mukulin jendela curhat sama cowok entah siapa yang duduk di depan gue yang ternyata suka mendaki juga. Seneng banget nyuruh gue nyebutin nama gunung, dan selalu mengeluarkan pertanyaan "Sampai puncak nggak?" Ah gue gebok juga lu.

Beruntungnya sesampenya gue terdampar sendirian di Surabaya tengah malem bolong, si Tugik Rangga udah booking-in hotel. Maacih looh Langgaaaaa. Terus sore-sorenya dibawa mubeng-mubeng sama si Rudi lewat jembatan Suramadu yang anginnya badai gilaaak. Gue berasa kayak balon diiket benang yang ngambang-ngambang nggak jelas gitu di udara. Abis itu nonton Air Mancur Warna.

Esok harinya, gue ketemuan ama Mas Yedi di Stasiun Surabaya. Lanjut naik travel dan ojek ke Basecamp Baderan dan bertemu sama Mas Sam.

"Mas, hari ini udah ada yang nanjak belum?"

"Nggak ada."

"Kemaren?"

"Nggak ada.
Adanya lusa."

Tiba-tiba ujan.

HAH?? Mateng.....................
Geluduk di hati gue pun menggemuruh.


Treknya sih landai, tapi kurva di hati gue mengalami fluktuasi yang nggak wajar. Jujur akoh takoooet. Karena sebelum jalan ke argopuro udah disuguhin bahan bacaan yang bikin nyali senen kemis. I didn't feel right anymore ketika masuk ke hutan rada kering, rapet, dan hujan angin pun datang secara tidak ramah. Ini sih melebihi scene filem-filem horror Cabin of The Wood dan semacemnya. Gue langsung minta nge-camp pake banget, dan Mas Yedi menuruti.


Besok paginya bangun, curhat-curhat masalah kasih yang tak tersampaikan sambil masak-masak lucuk. Gue si nggak masak, cuma bantu liat dan komen aja kayak komentator bola, nggak penting amet perannya tapi kalo nggak ada mah nggak rame lah. Setelah curhat-curhat masalah jancuk di hati, gue minta Mas Yedi nunggu pendaki yang baru mau mendaki pagi ini. Kita ambil trek duluan dan berenti di tempat camp kemungkinan mereka berenti.

Tiga jam kemudian, datanglah empat pendaki brondong yang masih sekolah. Kemudian dateng lagi anak mapala gitu sekitar 7 orang kalo nggak salah. "Akhirnyaaaa ketemu orang juga...", kata salah satu si rombongan yang baru dateng itu.

------Bertemu orang membuat akoh merasa terlahir kembali. Hahaha------

Seneng kan lu? Seneng kan udah ketemu orang? Gue yakin ini yang jadi pernyataan Mas Yed buat gue. Bagaimana pun akoh kan cuma cewe makhluk sosial yang nggak bisa hidup sendiri. Hahahay


Besoknya bangun dan start trekking paling duluan lagi. Jauh gilak, sepi gilak. Nggak ada orang, lama-lama gue bisa gilaaaak. This was the place where Vincensius Suryadinata got lost. I have no idea kenapa doi dateng ke sini sendirian saat cuaca sedang jelek-jeleknya with the only daypack and the guide from the ancient book of The Hyang Plateau. But I dunno I kinda obsessed about him and wanted to understand him even more. Ladang rumput berselimut kabut, Vincensius Suryadinata, The Hyang Plateau, Dewi Rengganis, serdadu militer, romusa. Oh... This place has the past that lays before me. And I wanted to feel them all in a blink of my eyes.




Sesampainya di Cikasur melewati tanaman kering yang sesuka hati menampar wajah gue seketika gue terabas, hati ini bahagyaaah. I'm at this point. How happy. Gue guling-gulingan males dulu sebelum ngadepin trek langsung ke Danau Hidup. Dan di sini lah persahabatan kami mulai diuji HAHAHAHAHAHA.




Seperti biasa, kita jalan duluan menuju Cisentor. Sepi. Ilalang setinggi dua meter. Karena gue yang jalan di depan, wajah gue yang selalu jadi korban nyisirin jaring laba-laba. Sedih. Gue udah nggak merasa cantik lagi di sini. Sepanjang jalan kita agak berselisih gitu. Sebel harus jalan dengan situasi sesepi ini. Ilalang. Savanah. Ilalang. Savanah. Saking sepinya tempat ini, gue bisa denger jantung gue mau perang. 



Setelah dari Cisentor, di sini lah petualang dimulai. Di sini gue merasa bahwa nyawa gue nggak lebih dari selembar tissue. Yang gue temuin cuma pattern ilalang kering yang setinggi dua meter, rapat, dan terdapat jancuk dibaliknya. Setelah itu Savanah lagi. Ilalang lagi. Savanah lagi. Ilalang lagi. Diguyur hujan angin. Basah kejebees. Takut. Jalan sekenceng mungkin dan nabrak taneman jancuk dewasa yang lagi mateng-matengnya. Oh God, I was feeling so dead. Gue cari pojokan dan nangis senangis-nangisnya. Rasanya, kayak tangan ditebas celurit. Sakiiitt bangeeet.



And we finally decided to camp in the middle of nowhere. Ujan angin, gluduk, nggak ada orang. Tenda udah kayak kobangan. Beberapa kali sambaran kilapan petir mampir, memberi bongkahan cahaya menakutkan masuk ke dalam tenda. I pray God, I remembered my parent's face, "If I die now, I die". Mas Yedi pun cuma bisa berselungkup in other space inside the tent. And thanks God I woke up in the next day. Kita balik ke Danau Hidup dan turun ke Basecamp Bremi bertemu dengan Pak Arif.


I called my father. I felt like crying. Ternyata semua orang udah resah di rumah. I'm really sorry Mam and Pap. Love you.

Jumat, 22 Juli 2016

Dangerously Beauty Mountain Rinjani

Happiness only real when shared, that was what Alexander Supertramp said.

Seneng-seneng mules pas sampe Lombok setelah perjalanan panjang jalur darat Jakarta - Lombok. Yaolooh Mbak Rini lama amet ya di bathroom. Ini feses di rektum gue udah full and gonna blow itself, Oh God menyiksa banget dan ngilu pun meradang. Setelah abad pun berganti, akhirnya aku pun jatuh ke pangkuan closet. Ah, leganyah.

Setelah packing-packing dan mandi cantik sambil nyanyi-nyanyi lalalalayeyeyeye, gue bersama rombongan Jejak Adventure pun akhirnya berangcut pake elf ke basecamp sembalun. Macet gilak. Plus elf nya ra kuat munggah alias ban nya puter balik pas tanjakan afgan. Serem gilak!

Paha putih mulus dan montok udah nangkring ketika menapaki trek sembalun (baca: sapi). Gilak sembalun cantik banget ya, apalagi berpadu denganku. Hahay! Iya, akoeh. akooooeeh...


Karena nanjaknya agak kesorean jadi ketemu gelap and I found it beautiful.


Mbak Wida yang cantik, baik hati, keibuan, dan masih jomblo ting-ting ini nemenin perjalanan sepanjang pos 1 sampe pos 2. Kita dipertemukan di Rinjani dengan nasib yang sama. Jangan-jangan jodoh, hahay! Kata Bang Baxss kan jenis kelamin nomor sekian yang penting kasih sayang, semboyan maho banget nggak si hahaha.


Asik asik curhat eh kaki gue keram, dan jatuh melintang dengan sempurna. EMAAAK.. Kaki nggak bisa digerakkin. Untungnya ketemu Mas Hans dan Mbak Rita and magically kaki gue bisa jalan lagi. Syukur Alhamdulillah. Huaah..

Camp Pos 2
Photo by Bang Mawi Jejak

Dari pos 2 sampe plawangan, Oh God, manisnya cuma diawal. Pas lo tau lo baru lewatin satu bukit dan masih ada ENAM bukit lagi yang kudu dilewatin, EMAAAAKKK.. *nangis di pinggir jurang* hiks hiks



Music stays on deh buat moodbooster nanjak terus tanpa ampun. Bukit penyesalan, kamu bikin aku lalala banget deh. Debu nya ampyuun ciin apalagi kalo bule-bule lagi turun, rusuh banget. Mending minggir bentar joget-joget dulu. Eh tiba-tiba bule brewok ajak ngobrol, namanya Michael dari Hawai. Ganteng siiek, tapi nggak lama ceweknya muncul, lagi pegangan tangan ama guide lokal. Menang banyak tuh guide lokal, Haha..  

Yaampun nggak sadar gue jalan sendirian aje, si ciwi ciwi nggak pada nongol. Eh akhirnya ketemu Mbak Wida, kita berdua bobo di pinggiran trek like homeless need shelter. Deep sleep banget padahal exposed sunlight gituh ampe kesusul temen-temen yang di belakang. Kevina, cewek ngetrail yang rambutnya diombre dan paling hobby bilang gue alay, akhirnya dateng juga. Dan kita nanjak bertiga lagi. Eh tapi..tapi..tapi.., tiba-tiba gue sendirian lagi. Elah, forever alone banget si gue.



Sebenernya gue tinggal 20-30 meter lagi dari Plawangan, tapi karna gue nggak tau, gue udah ngedown parah. Bobo lagi di tengah terik, mau nangis, lagi dan lagi (maklum menstruasi di hari-hari awal). Nunggu Mbak Wida dan Kevina yang tak kunjung muncul bikin drama queen gue semakin menjadi-jadi. Hmmm pergi saja kau pekat! Untung ngobrol sama bapak porter dan ketemu rombongan cowok-cowok Jejak yang baru nongol. Semangat lagi nanjak dan taraaaa... this is Plawangan.. look so emeziiiiing. You step on the land above the cloud. How happy...

Sesampainya di Plawangan, ternyata tempat camp nya lumayan jauh cyiin. Take a break, take a breath! Ketemu Kevina lagi yang mamerin pulpy orange yang harganya selangit itu. Dijual 30ribu, ditawar 20ribu, bisa aja ciwi ya nggak dimana tetep nawar. Kalo bule yang beli sprite harganya lebih wah lagi, nainti-tausen. Mukegilee. Kalo gue? Mending nelen air mentah rasa-rasa tanah yang disumbangin ama abang porter bule-bule pas di pos 3.

Abis ambil air yang bikin perjuangan karena sendirian #sobbed-eyes (niat mau mandiri tapi nyiksa hati), gue langsung masak dua saset bubur ayam dan satu saset bihun. Si Rendi udah hina aja ngeliat gue.

"Ren, gue kan belum makan dari pagi"

Tapi tetep aja diledekin. Jahat. Hiiks..! Udah gue laper gini malah disuruh diet. Nggak inget tempat lo, Ren. Resek. Lagian ini doang cadangan makan gue buat muncak sampe turun lagi ke Danau Sagara Anak, 2800 mdpl - 3762 mdpl - 1900 mdpl. Bukan karena nggak ada makanan, tapi gue males masak.

Abis makan, gue siapin hot tea di termos buat besok muncak. Gue sebenernya paling phobia nanjak pas gelap dan dingin. Selagi ada sweeper, gue mau nanjak sendiri aja biar gue bisa take breaks kapanpun. Di tengah jalan gue drop karena sok sakti nggak pake jaket dan throw-up. "Are you okay?", someone came. Gue bilang gpp. Lanjut jalan dan akhirnya didampingin Bang Baxss si sweeper jangan mencuri pas summit. Pas lagi break, gue liat semacem bintang jatuh gituh. Gag bisa make a wish, cuma bisa terpana emezing gitu. Oh I saw heaven on my eyes!



Pemandangan di atas ketinggian 3762 mdpl tidak semegah hati gue yang bahagia karna bisa sampe di point itu. Gilaaak, ngerasa keren abis. Saking merasa kerennya, foto gue sedikit banget. Gpp. Kata Nicholas Saputra moment kayak gitu pas nya disimpen di kepala, jangan cuma di handphone. BUNGKUS! #mencobamelipurhatiyanglara


Dari puncak Rinjani sampe Danau Sagara Anak itu jauh banget, bikin hati menangis dan ujung jari kaki meringis. But the panorama was so unbelievably beauty. Trek dari Plawangan sampe Danau Sagara agak terjal dan ngeselin. Untung ada abang Q-ting, si comedian berjalan. Ngakak terus. Makin rame, makin asik.

Thanks for one day break in Sagara Lake. Pagi-pagi gue udah nongkrongin sumber air. Antriannya panjang dan lama kayak mau bikin NPWP. Abis itu gue mampir ke air panas sebentar. Si Hilya alumni Rinjani dan lagi CLBK lagi sama Rinjani, sesatin gue ke tempat air panas yang panasnya bikin melepuh. Saking panasnya, hape gue yang kecemplung situ langsung rusak. *mewek sambil pukul pukul manja*



"Hil, gue kebelet pipis nih"

Gue langsung ninggalin Hilya gitu aja yang masih mau mesra-mesraan sama air panas. Gue balik ke tempat camp, buru-buru ambil tisu lari ke semak-semak. Dan plak..plak... Astaga... gue injek ranjau yang masih coklat sempurna.. Mama, aku kotor!


Sehari di Danau Sagara itu surga banget. Bisa gemes-gemesan cantik disitu. Modus-modusin tenda lain biar dapet makanan. Hahaha. Lumayan dapet sosis kornet, ikan, sama spageti. Perbaikan gizi banget. Terus dimasakin bubur kacang, nasi pecel dan dendeng juga ama Mas Hans dan Mbak Rita. Enyaaak.





Besoknya balik ke Senaru, barulah gue merasa kebahagiaan gue terusik. Karena untuk ke Senaru, gue harus naik ke Plawangan (1900-2800 mdpl) dan baru turun ke Senaru (2800-600 mdpl). Niat mau pake porter dari semalem udah mau ngebooking, pagi-paginya si porter nggak nyanggupin. *Nangis darah*


Harus semangat balik ke Senaru. Saking semangatnya, tebing nggak jelas gue panjat juga. Bang Ebon bilang bukan lewat situ. Ajegile.. EMAAAK.. Gue nggak bisa turun, mirip anak beruang nyangkut. Kampred lah.. bisa aja gue dapet sialnya. HAHA. Trek turun ke Senaru panjang banget, nggak nyampe-nyampe ih sebel. The sign said it's about 0,5 km. Tapi jauhnya yaolloooh... Mending copot tuh tanda nya, kok gag senada sama hati gue yang merasa udah jalan jauh banget. Hrrr...


Bisa menginjakkan kaki di atas ketinggian 3762 mdpl itu bukan membuat gue sok hebat, but it reminds me that I'm just a girl after all. Naik ke Rinjani itu perjuangan, tapi turunnya itu perjuangan bangeeeeeet. Dan di sini fisik gue udah hancur-hancurnya tapi panitia Jejak Adventure itu asik-asik, jadi tetep have fun walau melelahkan. Thank you berat buat Jejak Adventure dan kawan-kawan, this was a really nice long trip that I won't forget.

Sabtu, 28 Mei 2016

Semeru and Strangers!

Oh God, gue masih di St Jatinegara! Sejam lagi kereta Jayabaya berangkat dari St. Pasar Senen, dan gue masih di STASIUN JATINEGARA???!!!! Oh man, I'm screwed!!

Gue merangkai perpisahan dengan sekian rupa pada Erlang, cowok yang belum pernah gue temuin sama sekali sebelumnya, bahwa gue ini mustahil bisa ikut naik ke Semeru. Dan butiran air sebesar Danau Segara menggenang di mata gue. *mewek di pinggir rel kereta*

But God is kind. Nggak lama armada CL mengarah St. Pasar Senen pun tiba. Kapal nggak jadi oleng, Kapten. Hilang sudah nestapa dan hati ini pun bahagia. Tapi.. tapi.. tapi.. jarum panjang pun terus bergeser, and why this train is NOT going anywhere??? Bagai diterpa ombak gelombang tsunami di siang hari, sukses bikin semangat gue mati suri lagi. Demi Dewa, apa salah Tapasya? 

Memang Tuhan itu baik banget. Someone came from nowhere asked me where I'm going to, and he told the same story like I had. At least I had a friend. Sesampainya di St. Pasar Senen, kita berdua langsung terbirit-birit masuk ke antrian tiket dan bertemu lagi di kereta yang sama.



Sesampainya di St. Malang, gue dan Erlang bertemu dengan Rudi dan Alfian. And fortunately we got along! But accidentally, I found the same person that I've met in CL. And he was startled that I was about to hike with totally strangers and they all are guys.

"Lo gila ya, lo cewek sendiri. Kok lo berani-beraninya nanjak bareng cowok-cowok kayak gitu dan nggak lo kenal juga."

Matilah anak ayam! Bisa nggak sih reaksi lo biasa aja!

Sebenernya ini cowok yang masih nggak gue tau namanya itu bukan syok ngeliat wajah tampan Rudi, Alfian, dan Erlang. Melainkan syok ngeliat gerombolan pendaki2 bernampilan rada brekele yang lagi sharing masalah perangkotan ke Tumpang.

"Itu bukan temen gue. Jangan lebay, plis!"

Dan kita pun berpisah untuk selama-lamanya.

Holly cow! Keren banget pemandangannya. Gilak emang pemandangan dari Tumpang sampe Desa Ranupane itu kece bingit. Setelah ngelewatin beberapa perkampungan dan kebun-kebun apel hijau, kita bakal ngeliat hamparan savanah. Oh God, my eyes on heaven! Dan sebelas anggota Laskar Uye Adventure mendarat safely di Desa Ranupane.


Emang banyak banget suka dukanya jadi kaum minoritas di dalam suatu grup pendakian. Sukanya, gue terbebas bawa logistik dan perlengkapan grup. HURAAY! Dukanya, kita kaum wanita itu super lelet kalo lagi nanjak, dan akhirnya gue terpisah dari grup. Dan karena gue adalah orang yang paling lelet, gue selalu kena tenteng sweeper (yaitu Rudi dan Erlang). Maap ya merepotkan ^-^v



Gue memutuskan untuk nggak summit. Pertama, karena gue dingin-phobia. Kedua, karena gue lagi dateng bulan. Dan akhirnya gue bobo di tenda dengan posisi melintang karena takut ditemenin bobo sama tutu yang berbaring di kuburan sebelah camp kita. Ewwww..

Yang paling istimewanya dari Semeru, ternyata ada toilet di Semeru. Jangan salah sangka! Toilet Semeru itu lebih ngerik dibanding Blank 75. Why? Karena gue liat cowok yang lagi asik boker di situ tertimpa musibah. Pintu toilet yang dia pake tumbang dan gelak tawa pun pecah sepecah-pecahnya. Gue yang udah bunuh-bunuhan buat merebutkan tisu basah dan udah menahan mules sedari tadi yang terus menggila memilih untuk mundur dari toilet Kalimati.

Di Ranu Kumbolo, akhirnya gue memutuskan buat boker saat gelap hari. Dengan sok akrabnya seorang cowok yang lagi masak di tenda menyapa gue saat perjalanan. "WOHOO AKHIRNYA LO SAMPE JUGA!"


Gue bengong-bengong bego, dia masang tampang yang lebih bego lagi. "Hah, maksudnya?" 

Dia pun bingung liat gue, dan baru sadar kalo gue bukan orang yang dia maksud. "Sorry, sorry, salah orang. Dikirain tadi temen saya, soalnya jaketnya biru juga."

"iiihh bukaaaan keleeus...."

"Maaf ya Mbak. Maaf! Salah orang, hehe."

Gue cengengesan sejadi-jadinya.

Setelah misi tercapai, perut lega, gue balik ke tempat camp. Pas sampe di depan tenda-tenda, gue terbengong-bengong ngeliat cowok-cowok yang bengong ngeliat gue. "Hah, aku salah tenda ya...."



Walo nggak summit top of Semeru, gue nggak nyesel si. Karena view Semeru tuh asik dan tracknya nggak sadis kayak mantannya Afgan. And I came back to Jakarta with happy heart walo harus naik kereta murah rasa kandang ayam. But so far, it went well. Well, it was not really well. Gue menatap lesu pada nasib harus melewati sekurang-kurangnya 15 jam di dalem kandang ayam ini. Dan tiba-tiba...

Someone came and sat beside me..

"Hey, ketemu lagi. Gimana? Nyampe puncak Semeru nggak?"

Hah, you again! How coincidence!

Senin, 04 Mei 2015

Review Film - Brokeback Mountain (2005)


Genres: Drama, Romance; Director: Ang Lee; Writers: Annie Proulx (short story), Larry McMurtry (screenplay); Stars: Heath Ledger, Jake Gyllenhaal, Anne Hathway, Michelle Williams; Release Date: 13 January 2006 (USA); Duration: 134 min; Language: English; Budget: $14,000,000

It was a friendship, that became a secret..
There aren't places, we can run
There are lies, we have to tell
There are truths, we can't deny

Di pegunungan yang sunyi, dua koboi tinggal sendirian bersama ribuan domba selama musim panas. Bermula dari persahabatan yang terjalin secara alamiah antara Ennis Del Mar dan Jack Twist, terdapat sebuah hasrat yang tak dapat dielakkan oleh keduanya. Bagai dihantam ribuan palu ke ulu hati begitu terhujamnya Ennis dan Jack menyadari bahwa keduanya secara tak sengaja saling jatuh cinta dan memiliki hasrat seksual di antara keduanya. Ennis yang dihantui oleh kisah tragis yang terjadi di lingkungannya semasa ia kecil, memastikan Jack untuk mengetahui dan mengingat kejadian tersebut. Ennis meyakini bahwa selangkah saja mereka berdua berbuat kesalahan, maka Jack akan berakhir seperti jasad mati seorang homoseksual yang disiksa secara kejam oleh orang-orang yang tak menyukainya, persis seperti yang ia pernah lihat bersama kakak dan ayahnya.

Film ini bukan seperti film hebat lainnya yang menyelipkan sebuah pesan di dalamnya. Namun film ini ditayangkan seperti nyata menggiring penonton masuk turut merasakan lika-liku kehidupan dua koboi yang saling dilanda cinta terlarang ini terpaksa menjalani kehidupan normal dan dalam berbagai cara mengelak satu-satunya hasrat yang membuat mereka begitu menggelora. Satu-satunya pilihan yang Ennis dan Jack punya ialah, hidup dengan keluarga dan pekerjaan masing-masing, dan bereuni kembali untuk sekali atau dua kali dalam setahun ke tempat di mana kenangan akan mereka berdua tertoreh.



Later the dozy embrace solidified in his memory as the single moment of artless, charmed happiness in their separate and difficult lives. Nothing marred it, even the knowledge that Ennis would not then embrace him face to face because he did not want to see nor feel that it was Jack he held. And maybe, he thought, they'd never got much farther than that.
Annie Proulx - Brokeback Mountain

Yang membuat film ini sangat hidup ialah, Ang Lee menampilkan pemandangan-pemandangan yang sangat indah dimana cinta terlarang antara kedua koboi ini terjalin dan diisi pula dengan lantunan soundtrack yang membuat alur kisah cinta terlarang ini semakin memuai. Dan yang menakjubkan dari film ini, Brokeback Mountain bukan sejenis film yang tergesah-gesah menggelindingkan penontonnya ke akhir cerita untuk segera menemukan titik klimaksnya. Film ini tak akan rusak citra rasanya apabila telah terungkap akhir ceritanya. Ang Lee menggiring penonton untuk memahami setiap gejolak yang terjadi pada setiap scene. Karakter Ennis dan Jack akan merangkak masuk ke dalam vena pada tiap detik kesunyian yang kita resapi pada film ini. 

Brokeback Mountain meraih banyak penghargaan dan menuai banyak kritik. Film yang diadaptasi dari sebuah cerita fiksi pendek yang dipublikasi oleh The New Yorker ini sempat disesali oleh penulisnya sendiri, yaitu Annie Proulx, karena karakter Ennis dan Jack telah memberikan dampak besar bagi sosial. Annie Proulx memenangkan National Magazine Awards atas cerita fiksi pendeknya ini yang dikarang berdasarkan penghayatannya yang panjang akan kejadian nyata yang terjadi pada lingkungannya sendiri. Annie Proulx membutuhkan waktu enam tahun untuk dapat menyelesaikan cerita fiksi pendeknya ini dengan menghidupkan karakter Ennis dan Jack di kehidupannya sehari-hari.

Film ini ditutup dengan helai kemeja milik Ennis dan Jack yang digantung menjadi satu dengan didampingi postcard yang menampilkan pemandangan pegunungan. Ennis menitikkan air mata terkenang kembali akan kisah pahitnya bersama pria di masa lalunya yang terkubur di kedua kemeja itu. Untuk janji yang tak pernah Ennis ikrarkan pada Jack, Ennis mengucapkan "Jack, I swear" pada sehelai baju yang biasa dikenakan Jack selama menggembala domba dengannya.

Selasa, 04 November 2014

Nessun Dorma, Nyanyian Sang Pangeran Misterius untuk Putri Turandot yang Kejam

"Tiada yang akan mengetahui namanya, dan kita harus, sayangnya, mati, mati!"
"Il nome suo nessun sapra, e noi dovrem, ahime, morir, morir!"

Jika nama pangeran misterius tersebut tidak terungkap, maka hukuman mati oleh Turanbot bagi mereka semua yang gagal untuk mencari tahu.

Siapapun yang berani ingin mempersunting Sang Putri Turandot yang terkenal kejam itu, harus mampu memecahkan tiga teka-teki yang ditantangnya. Bagi yang gagal, maka harus kehilangan kepalanya. Seorang pangeran yang jatuh cinta pada pandangan pertamanya kepada Sang Putri, berhasil memecahkan tantangan tersebut. Namun Sang Putri tetap tak ingin menikahi pangeran tersebut. Maka kali ini si pangeran yang memberi tantangan Sang Putri untuk mengungkapkan siapa nama pangeran tersebut sebelum terbit fajar. Apabila Sang Putri berhasil mengungkap siapa nama Pangeran tersebut, hukuman eksekusi dijatuhkan kepada si pangeran. Namun apabila Sang Putri gagal, maka Sang Putri harus rela dinikahinya. Menjawab tantangan ini, Sang Putri memerintahkan rakyatnya untuk tidak tidur sampai ada yang menemukan siapa nama Pangeran tersebut dan hukuman mati berlaku bagi mereka semua yang gagal mencari tahu namanya sebelum fajar.
Mendengar berita ini, Sang Pangeran menyanyikan lagu Nessun Dorma di bawah cahaya bulan taman istana.

"Tiada yang harus tidur, tiada yang harus tidur!
Bahkan kau, Oh Putri,
di dinginnya kamar tidur,
memandangi bintang
yang bergetar dengan cinta dan harapan!

Namun rahasiaku tersimpan denganku
Tiada yang akan tahu namaku!
Tiada, Tiada! Di mulutmu,
aku akan mengatakannya ketika cahaya menerang.

Dan ciumanku akan melarutkan
keheningan yang membuatmu milikku."

"Nessun dorma! Nessun dorma!
Tu pure, O Principessa
nella tua fredda stanza
guardi le stelleche tremano d’amore, e di speranza! 

Ma il mio misterio e chiuso in me
;il nome mio nessun sapra
!No, No! Sulla tua bocca
Lo diro quando la luce spledera!

Ed il mio bacio scioglieraIl 
silenzo che ti fa mia" 



Kisah Pangeran misterius, Callaf, dan Sang Putri kejam, Turandot, diperankan pada opera yang berjudul Turandot berdasarkan dari cerita yang ditulis oleh Haft-Peykar pada bukunya Turan-dokht. Turan-dokht berasal dari istilah Persia yang berarti putri Turan. Kisah Turandot diangkat dari kumpulan cerita yang disebut The book of One Thousand and One Night, dan dihidupkan ke dalam opera yang ber-setting di Forbidden City, China, oleh Giacomo Puccini. Opera diperankan ke dalam tiga bagian, namun kematian Giacomo Puccini mendahului akhir cerita dari opera ini. Berkat dari peninggalan catatan milik Giacomo Puccini yang masih kasar, Franco Alfono berhasil menyelesaikan bagian akhir bersama Giuseppe Adami dan Renato Simoni yang bersetting di Italia. Nyanyian Nessun Dorma merupakan termasuk lagu opera italia yang terbaik sepanjang masa dan sangat melekat di hati pecinta opera dan lagu klasik.

Bagian I
Turandot ialah seorang Putri yang sangat cantik dan berhati dingin, sedingin bongkah es. Turandot memastikan tiada seorang pria pun yang dapat mempersuntingnya, kecuali dapat memecahkan tiga teka-teki yang ia berikan. Pada suatu malam di bawah cahaya bulan yang menderang, Pangeran Persia kehilangan kepalanya karena telah gagal memecahkan teka-teki yang diberikan oleh Turandot. Keheningan menyelimuti keramaian jiwa-jiwa yang bergeming saat menyaksikan tertumpahnya darah. Kejadiaan naas itu membuat darah Pangeran Callaf membubuh saat menyaksikan kekejaman itu berlangsung. Namun sesaat matanya bersandar pada kecantikan Putri Turandot, Pangeran Callaf jatuh hati dan bertekad untuk meminangnya.
Liu, budak Timur (ayah Callaf, Raja Tartary) yang sangat peduli pada keselamatannya, memperingatkan Callaf untuk tidak mempertaruhkan kepalanya hanya untuk melamar Putri Turandot. Namun karena kecintaannya pada kecantikan Putri Turandot, ia tetap bertekat untuk melamar Turandot. Callaf meminta Liu berjanji untuk tidak memberitahukan namanya pada siapapun. Timur meyakinkan Callaf bahwa Liu ialah seorang budak yang sangat setia. Callaf menanyakan berasal darimana kesetiaan yang Liu berikan kepadanya. Liu menjawab kesetiaan itu tumbuh dari senyuman yang pernah Callaf berikan pada Liu dari bertahun-tahun lalu.

Bagian II
Callaf mendeklarasikan niatnya dan bersedia untuk memenuhi tantangan Turandot untuk mempertaruhkan kepalanya pada ketiga teka-teki yang diberikan Turandot. Gong sudah dipukul, Turandot menghunuskan tiga teka-teki kepada Callaf yang mungkin dapat membawa Callaf berujung pada maut.
Teka teki pertama: "Terlahir pada setiap malam, dan mati ketika pagi menjelang?"
"Harapan!", jawab Callaf.
Teka-teki kedua: "Bewarna merah dan sehangat nyala api?"
"Darah", jawab Callaf. Turandot mulai risau dengan tepatnya jawaban Callaf.
Teka-teki ketiga: "Seperti es, namun dapat membakar?"
Keramaian mulai menghening dengan kebisuan yang berteriak-teriak dan mengoyak-ngoyak pembuluh darah setiap pasang mata yang menyaksikannya. Akankah Putri yang terkenal kekejaman dan keangkuhannya itu, terutama pada pria yang ingin meminangnya, akan segera menikah? Atau akan ada lagi untuk kesekian kalinya, teka-teki itu memenggal kepala seorang pangeran.
"Turandot!", jawab Callaf dengan lantang.
Turandot terkejut dan meminta ayahnya untuk menolak lamaran nikah dari seorang pangeran yang baru saja untuk selama-lamanya meluruhkan senjata teka-tekinya yang selama ini telah menelan banyak nyawa. Namun tekat Callaf tak gentar ditelan keegoisan Turandot. Callaf menantang Turandot untuk mengungkapkan siapa sebenarnya Callaf. Tiada satu pun orang yang tahu selain Liu. Apabila subuh telah menjelang dan Turandot berhasil mengungkapkan siapa nama Pangeran yang baru saja mengalahkannya itu, maka tumbanglah kepala Callaf dari tubuhnya. Namun jika Turandot gagal, Turandot harus rela dinikahi Callaf.

Bagian III
Turandot dengan berat hati memenuhi tantangan tersebut. Ia memerintahkan seluruh rakyatnya untuk tidak tidur sebelum ada yang menemukan siapa nama pangeran yang baru saja mengalahkannya itu. Sehingganya subuh menjelang, berlakulah hukuman mati bagi mereka yang gagal menemukan siapa nama pangeran itu. 
Ketakutan merebak, melapisi setiap dinding vena yang mengalir darah di dalamnya. Perintah Sang Putri yang sangat kejam ini membuat rakyatnya sangat sedih dan depresi. Di bawah cahaya bulan yang menderang, Pangeran Callaf mendengar rakyat bernyanyi.
"Tiada yang akan mengetahui namanya, dan kita harus, sayangnya, mati, mati!"
"Il nome suo nessun sapra, e noi dovrem, ahime, morir, morir!"
Pangeran Callaf yakin ia mampu mengalahkan Sang Putri untuk kedua kalinya. Ia yakin tiada satu pun yang akan mengetahui namanya, tiada satu pun. Dengan penuh cinta dan harapan, Callaf menyanyikan lagu Nessun Dorma.
Sayangnya, nama sang pangeran berada pada nyawa Liu. Sang Putri berhasil membelenggu Liu dan berjanji akan terus menyiksanya hingga terungkaplah nama Sang Pangeran. Namun kerahasiaan itu tetap hidup bersama kematian Liu, ia merampas nyawanya dengan tangannya sendiri ketika prajurit Turandot lengah. Sang Putri yang berhati parang itu sempat bertanya mengapa Liu bersikeras untuk tak memberitahu siapa sebenarnya nama Sang Pangeran. Liu mengorbankan nyawanya sendiri untuk Sang Pangeran. Liu pun menjawab, "....Cinta".
Pangeran Callaf membisikan namanya di telinga Turandot, ketika Kemenangan Pangeran Callaf telah dideklarasikan. Di depan keramaian, Sang Putri berdiri bersama Pangeran dan mengumumkan sebuah nama, "...CINTA".